Selayang Pandang GKJ Wirobrajan




   GKJ Wirobrajan adalah sebuah persemaian pekabaran Injil yang bertumbuh dan berkembang di daerah barat dan selatan kota Yogyakarta tepatnya kawasan luar benteng (jawa : jaba benteng) Kraton Kasultanan Yogyakarta. Pada tahun 1935, R.M. Padmosedirjo, seorang guru Injil diberi mandat majelis GKJ Gondokusuman untuk melayani jemaat di daerah barat dan selatan Yogyakarta. Tempat ibadah semula di Notoprajan, namun karena dirasakan kurang kondusif, kemudian dipindah ke kampung Wirobrajan.

   Pada tahun 1948, Agresi Militer Belanda yang memasuki kota Yogyakarta, mengakibatkan jemaat tercerai berai. Namun setelah situasi Yogyakarta kembali pulih, dengan setia Bapak Padmosoedirjo mengumpulkan lagi jemaat di Wirobrajan. Pada tahun 1953, Majelis GKJ Gondokusuman membeli sebidang tanah di Jalan Ketanggungan 153 (tempat gereja saat ini). Setelah dibangunkan sebuah tempat ibadah oleh Majelis GKJ Gondokusuman dan majelis pepanthan dipersiapkan, maka pada tanggal 27 Maret 1959, secara resmi Pepanthan Wirobrajan berdiri sebagai jemaat dewasa dengan nama GKJ Wirobrajan.

   Pendeta pertama GKJ Wirobrajan adalah Bapak Christian Soetrisno Laban yang ditahbiskan ada tanggal 30 Oktober 1962. Setelah melayani selama 4 tahun, beliau kemudian dipanggil dan berpindah sebagai pendeta Angkatan Laut. Pendeta kedua GKJ Wirobrajan adalah Bapak Ds. Soediharto yang diteguhkan tanggal 26 September 1969. Namun sejak akhir 1989, kesehatan Pendeta Soediharto mulai menurun dan meninggal pada tanggal 31 Januari 1991. Untuk kedua kalinya, jemaat GKJ Wirobrajan kehilangan pelayanan kependetaan.

   Tuhan menjawab kerinduan jemaat GKJ Wirobrajan dengan hadirnya Bapak Pendeta Eddi Krisbudiarto, S.Th. yang saat itu telah melayani di GKJ Margoyudan, Solo. Pada tanggal 30 Oktober 1992, beliau diteguhkan sebagai pendeta GKJ Wirobrajan yang dalam sejarah tercatat sebagai pendeta ketiga dan setia melayani hingga memasuki masa Emeritus tanggal 20 Juli 2014. Pendeta keempat yang melayani sampai saat ini adalah Pdt. Yosef Krisetyo Nugroho yang ditahbiskan pada tanggal 29 Oktober 2011.

   Dalam sejarahnya, GKJ Wirobrajan memiliki tiga pepanthan, yaitu pepanthan Tegalmulyo, Pepanthan Sonosewu dan Pepanthan Gedongkiwo. Pepanthan Tegalmulyo adalah perkembangan jemaat GKJ Wirobrajan yang tinggal di wilayah sekitar Tegalmulyo dan Tompeyan pada tahun 1975. Yang dalam perkembangannya kemudian bersama majelis GKJ Gondokusuman bersepakat mendirikan pepanthan bersama, yang kemudian berdiri sebagai jemaat dewasa GKJ Bambu Tegalrejo pada tanggal 7 Juni 2008. Pepanthan Sonosewu adalah perkembangan salah satu wilyah GKJ Wirobrajan, khususnya wilayah VII yang resmi berdiri pada tanggal 5 Juli 1970. Sedangkan Pepanthan Gedongkiwo memiliki cikal bakal dari wilayah VIII yang berdiri pada tanggal 22 Juni 1986. Kedua pepanthan ini masih menjadi bagian jemaat GKJ Wirobrajan.

   GKJ Wirobrajan telah lebih setengah abad melintasi zaman. Sampai saat tercatat memiliki jemaat 1528 jiwa, dua pepanthan (Sonosewu dan Gedongkiwo), dua belas wilayah pelayanan, dan dilayani seorang pendeta jemaat. Pemeliharaan Tuhan adalah kekuatan bagi GKJ Wirobrajan untuk hadir dan bersaksi sebagai ‘Tubuh Kristus’ yang dapat menyentuh dan merawat jemaat dalam pemeliharan keselamatan dan bekerjasama dengan masyarakat dalam memulihkan kehidupan sebagai perwujudan karya keselamatan Allah.