BELAJAR MEMERDEKAKAN HIDUP MELALUI PENGAMPUNAN

By Admin

12 September 2020

Artikel Gerejawi



    Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Matius 18:22) Kehilangan kemerdekaan tidak selalu dalam bentuk penindasan dan tekanan dari pihak lain. Kita bisa juga kehilangan kebebasan diri justru disebabkan oleh pilihan sikap kita. Salah satu sikap yang menghilangkan memerdekakan diri, namun kerap diabaikan, adalah sikap dendam. Kita memilih menyimpan dan menahan luka hati hingga berbuah kepahitan. Kita lupa bahwa memerdekakan diri juga ditempuh dengan jalan belajar mengampuni. Pertanyaan Petrus kepada Tuhan Yesus, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Matius 18:21) Seseorang yang bisa mengampuni sampai tujuh kali sudah bisa dikatakan merupakan sebuah prestasi, sungguh tidak mudah melakukan hal itu. Pada umumnya orang sudah akan menyerah bila ia sudah mengampuni sebanyak tiga kali; bahkan banyak orang yang satu kali mengampuni pun sudah sulit. Tapi, Tuhan Yesus mengatakan bahwa tidak cukup orang mengampuni sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Melalui kisah perumpamaan hari ini, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa pengampunan harus dinyatakan kepada setiap orang lain yang bersalah kepada kita. Mengapa Tuhan menghendaki pengampunan tanpa batas? Pertama, dendam adalah hutang. Melalui perumpamaan hamba yang tidak mengampuni kesalahan orang lain kepadanya, itu dilihat sebagai hutang. Hutang merupakan beban yang menindih kehidupan dan tidak memerdekakan. Sebagaimana hutang harus dibayar, demikian juga dengan hutang kepada sesama karena menyimpan dendam. Dengan apa hutang dibayar? Dengan pengampunan. Bila kita mendendam kepada orang lain, kita akan dipenjarakan oleh perasaan kebencian kita. Selain dipenjara kebencian, kita juga terhalang untuk menerima ampunan dari Tuhan. Kedua, pengampunan adalah pelunasan yang memerdekakan. Bila dendam diibaratkan sebagai hutang, maka pengampunan adalah bentuk pelunasan. Saat kita berhutang dan hutang itu dapat dilunasi, perasaan bahagia pasti ada dalam diri kita. Demikian juga dengan pengampunan. Dengan menyatakan ampunan pada orang yang bersalah, di sana kita memerdekakan diri sehingga muncul ketenangan dalam batin. Siapa yang dimerdekakan? Yang dimenangkan adalah diri sendiri dan sesama. Karena pengampunan adalah pemerdekaan, maka hidup ini menjadi bermakna setiap hari bila kita mengikuti ajaran Tuhan Yesus dengan hidup mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali yang berarti pengampuna yang tanpa batas. Dari mana pengampunan itu dinyatakan? Dari dalam hati kita, sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus dalam Matius 18:35,”Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Dalam penutupan Pekan Pendidikan Kristen 2020 ini, kita bersama dipanggil untuk memerdekakan diri dengan senantiasa hidup mengampuni tanpa batas dengan segenap hati dan kehidupan sehari-hari. Amin.

Link Sumber