PENGAKUAN MEWUJUD DALAM TINDAKAN

By Admin

22 August 2020

Artikel Gerejawi



    (Matius 16:13-20) Saya akan mengawalinya dengan sebuah ilustrasi tentang seorang ayah yang bertanya kepada anaknya yang masih berusia tujuh tahun begini, “kata orang siapakah ayah?” setelah berfikir anak itu menjawab, “ada yang mengatakan guru, ada yang mengatakan Pak lurah, ada juga yang memanggil Pak Jamal”. Kemudian ayahnya bertanya lagi pada sang anak, “menurut kamu siapakah ayah?” dengan wajah yang ceria anak ini menjawab, “ayahku”. Dari sini kita dapat melihat bahwa sang anak mengenal ayahnya dengan pengenalan yang bersifat pribadi dan lebih mendalam jika dibandingkan dengan orang lain. Sodara terkasih melalui bacaan Injil kita hari ini, Yesus mengajarkan beberapa hal penting tentang pengakuan iman. Seperti halnya bahwa pengakuan harus bersifat pribadi. Pada awal pembicaraan Yesus menanyakan pendapat publik tentang diri-Nya “kata orang siapakah Aku ini?”. Dari informasi yang didengar murid-murid-Nya, pandangan publik tentang Yesus begitu beragam. Yesus lalu memberikan pertanyaan yang lebih pribadi: “tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. melalui hal ini menyiratkan bahwa Yesus ingin menegaskan pentingnya pengakuan secara pribadi. Pandangan banyak orang menyiratkan kerancuan konsep bangsa Yahudi tentang Mesias. Herodes berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit dari kematian. Sebagian menduga bahwa Yesus adalah Elia yang akan datang seperti dinubuatkan oleh Maleakhi, padahal sebelumnya Yesus memberitahu bahwa Elia yang akan datang adalah Yohanes Pembaptis. Masih ada pula orang-orang lain yang menduga bahwa Yesus adalah salah seorang nabi yang akan muncul di akhir zaman. Walaupun pandangan-pandangan ini tidak ada yang negatif terhadap Yesus, tetapi Yesus tidak hanya mencari sikap positif. Melainkan pengakuan secara pribadi dari kita manusia dalam pengenalan akan diri-Nya dengan benar dan tepat. Sodara terkasih, pengakuan yang benar tentang pribadi Yesus hanya dimungkinkan oleh Allah, dengan ketersediaan juga kepekaan kita dalam meresponnya. Petrus bukan hanya sebagai orang yang “beruntung” atau “pandai” karena tebakannya tentang Yesus tepat. Tetapi ia pun diberkati itulah kenyataannya. Sehingga melalui ini kita dapat melihat bahwa kebahagiaan sejati muncul dari kenyataan akan pengenalan pada pribadi Yesus yang benar. Terlepas dari seberapa jauh Petrus bisa memahami ucapannya, pengakuan itu pada dirinya adalah benar dan berasal dari penyataan Bapa. Manusia berdosa tidak mungkin memberi pengakuan yang benar dan sungguh-sungguh jikalau tidak ada intervensi Allah dalam diri orang itu. Oleh karena itu sodara yang terkasih, kesadaran untuk mewujudkan pengakuan dalam kehidupan keseharian merupakan hal yang penting dilakukan, sebagaimana firman yang berbunyi: “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Perbuatan yang diperlihatkan sebagai perwujudan iman kita adalah dalam Tuhan dan juga terkait dengan kepedulian kita pada sesama. Itulah yang menjadi makna bahwa “Pengakuan Mewujud dalam Tindakan”. AMIN

Link Sumber