MEMPERSAKSIKAN ALLAH DALAM KARYA NYATA

By Admin

02 May 2020

Artikel Gerejawi



    Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. (Yohanes 10 : 4) Tuhan Yesus menggambarkan diriNya sebagai gembala. Ia tidak menggambarkan diriNya dengan figur dan pekerjaan yang tinggi. Misalnya sebagai raja atau penguasa. Raja berada di istana, gembala ada di padang belantara. Raja duduk di singgasana beralaskan permadani, gembala duduk di atas batu cadas beralasakan rumput. Lalu mengapa Tuhan Yesus malah memilih gambaran pribadiNya sebagai gembala? Tidak! Salah besar bila kita meremehkan gambaran gembala! Sebagai gembala justru tersirat gambaran yang luar biasa. Dalam diri gembala, Yesus menampilkan pribadi yang begitu berharga – bahkan melebihi seorang raja-. Mengapa? Pertama, karena gembala menggambarkan pribadi Yesus yang begitu dekat. Setiap hari gembala hadir bersama domba. Setiap hari gembala memanggil domba- dombannya. Dan gembala mengenal domba-dombanya. “…ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.” (Yohanes 10:3). Inilah gambaran pribadi Yesus Kristus, yang hadir setiap hari bersama kita. Setiap hari memanggil kita dan mengenal kita masing-masing. Yesus adalah gembala yang dekat dengan kita secara pribadi. Hingga Daud pun berkata, “Tuhan adalah gembalaku, tak kan kekurangan aku” (Mazmur 23:1). Gembalaku, bukan gembala mereka atau gembala kami. Gembala yang begitu dekat dan akrab. Gembala yang seperti ini – pengakuan Daud - membuat hidup tidak pernah berkekurangan! Kedua, karena gembala menggambarkan pribadi Yesus yang melayani. Gembala tidak pernah meninggalkan dombanya. Ia bahkan menjadikan dirinya ‘pintu’ bagi domba-dombanya. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.” (Yohanes 10:7). Artinya, ia selalu tinggal di kandang dan menjadi jalan keluar masuk bagi domba-dombanya. Mengawasi dan memperhatikan domba-dombanya. Demikian pula pribadi Yesus, yang bersedia melayani kita. Memperhatikan, merawat dan melindungi kita. Adakah yang lebih mengharukan daripada hidup dilayani oleh Allah sendiri? Inilah indahnya ketika Yesus bersedia menjadi Gembala kita.Ketiga, karena gembala menggambarkan pribadi Yesus yang memberi kehidupan. Gembala menjadi ‘sumber kehidupan’ bagi domba-dombanya. Ia menuntun domba ke padang rumput. Ia menjaga domba dari ancaman maut. Ia bertanggung jawab atas kehidupan domba- dombanya. Dan inilah juga gambaran pribadi Yesus bagi kita! “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput... Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:9-10). Oleh karena Yesus gembala kita, kita hidup! Bukan asal hidup, tetapi selamat dan hidup dalam segala kelimpahan. Sungguh indah ketika Yesus menjadi Gembala kita! Ia memang mulia dan penuh kuasa – melebihi kemuliaan raja-, tetapi Ia memilih menjadi Gembala kita. Begitu mengharukan bila menyadari Allah yang begitu dekat, melayani dan memelihara kehidupan kita. Kita bersukacita justru karena Yesus adalah Gembala kita. Dan kita tahu pasti satu jaminan –seperti Daud-, kita tidak akan berkekurangan (bnd. Mzmur 23:1) dan bahkan memiliki kehidupan sejati yang berkelimpahan (Yohanes 10:10). Amin.

Link Sumber