KASIH ALLAH YANG MENYELAMATKAN

By Admin

07 March 2020

Artikel Gerejawi



    Dalam buku “To End All Wars”, Ernest Gordon menceritakan kisah nyata sekelompok tahanan perang pihak sekutu yang bekerja dalam pembangunan rel Kereta Api di Myanmar selama Perang Dunia II. Ketika itu, tugas harian kerja paksa telah selesai. Alat-lat yang digunakan sedang dihitung. Ternyata ada sebuah sekop yang hilang. Maka kelompok tahanan kembali dikumpulkan. Sang tentara Jepang bersikeras bahwa ada seorang tahanan yang telah mencuri sekop untuk dijual kepada orang-orang Thailand. Sambil melangkah kian kemari di hadapan kelompok tahanan, ia meneriaki dan mengutuki mereka. Mereka dianggap tidak tahu terima kasih kepada Kaisar Jepang yang masih membiarkan mereka hidup. Semakin lama, ia semakin marah tidak terkendali. Sambil menjerit ia menuntut agar orang yang bersalah maju satu langkah untuk menerima hukuman. Ternyata tidak ada satupun yang bergerak. Maka kemarahan sang tentara Jepang pun memuncak. Ia memekik, “Semua mati! Semua mati!” Ia bersungguh-sungguh dengan mengeluarkan senjata dan siap menembaki setiap orang dalam kelompok tahanan itu. Nyawa mereka semua ada diujung tarikan pelatuk. Pada saat itu pula, Argyll seorang tahanan dari Skotlandia maju ke depan. Ia berdiri dengan tegap dan berkata dengan tenang, “Saya pelakunya.” Tentara itu melampiaskan seluruh kebenciannya. Ia menendang tahanan yang tidak berdaya itu, dan menghajarnya dengan gagang senjatanya keras-keras akhirnya dihantamkannya gagang tersebut ke kepala Argyll. Argyll pun tersungkur dan tidak bergerak lagi. Tetapi sang tentara Jepang terus memukulinya dan berhenti ketika kelelahan. Para tahanan mengangkat mayat rekan mereka dan melangkah kembali dalam barisan menuju ke kamp. Ketika peralatan kembali dihitung di ruang jaga, ternyata tidak ada sekop yang hilang. Sang tentara Jepang telah salah menghitung. Sang tahanan muda yang maju ke depan tidak mencuri sebuah sekop. Ia memberikan nyawanya untuk keselamatan teman-temannya. Itulah perwujudan dari sebuah kasih. Ia bukan hanya berbuat kebaikan kepada orang lain. Tetapi memiliki kerelaan berkorban bagi orang lain. Seperti Firman Tuhan hari ini yang sering menjadi inti dari Berita Injil, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Ada tiga hal berharga dari Firman tersebut : Pertama, keselamatan terjadi karena prakarsa Allah semata. Seringkali agama menampilkan wajah Allah yang harus dibujuk dan disembah agar mau bertindak. Seolah-olah Allah adalah pribadi yang keras, diam dan acuh pada ciptaanNya. Manusia harus berusaha keras untuk memperoleh perhatian Allah. Tetapi ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa keselamatan itu dimulai dari Allah sendiri. Allah yang mengutus AnakNya, dan Allah melakukannya semata karena mengasihi manusia. Semua itu dilandasi oleh kasih Allah sendiri. Kedua, sumber keberadaan Allah adalah kasih. Kita sering membayangkan Allah sebagai pribadi yang melihat manusia sebagai pendosa dan pemberontak. Maka Allah akan segera menghukum dan menghancurkan manusia ketika mereka tidak mau bertobat.Tetapi ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa Allah yang bertindak bukan untuk kepentinganNya sendiri, tetapi untuk kepentingan kita. Allah adalah Bapa yang tidak bahagia bila anak-anakNya yang tersesat belum kembali ke rumah. Allah yang memanggil dan mencari manusia dalam kasih untuk pulang berbalik kepadaNya. Ketiga, keluasan kasih Allah. Yang dikasihi Allah adalah dunia. Bukan sebuah bangsa. Bukan pula orang-orang saleh. Tetapi kasih kepada dunia! Artinya, Allah mengasihi orang semua orang. Baik mereka yang bersandar kepada Allah, maupun mereka yang menolak Allah, semuanya tidak luput dari jangkauan kasih Allah. Kasih Allah begitu luas untuk menjangkau dunia, bukan umat tertentu. Kasih adalah hal terbesar yang Allah dapat berikan kepada kita. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat- sahabatnya” (Yohanes 15:13). Fulton J. Sheen mengatakan Allah tidak mengasihi kita karena kita berharga, tetapi kita menjadi berharga karena Allah mengasihi kita. Amin.

Link Sumber