KESEJATIAN KRISTUS RAJA

By Admin

23 November 2019

Artikel Gerejawi



    Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Lukas 23:42). Apa yang terlintas dalam hati kita bila mendengar kata “raja”? Mungkin kita membayangkan sebuah istana. Bangunan yang megah dan indah. Ya, sebab raja selalu tinggal dalam sebuah kerajaan yang besar dan mewah. Atau mungkin kita menggambarkan sebuah jubah mahal dan mahkota emas. Karena seorang raja dikenal dengan pakaian dan mahkota kebesarannya. Atau kita membayangkan sebuah wilayah kerajaan yang begitu luas. Dengan banyak rakyat yang tunduk dan taat kepada sang raja. Semua gambaran “raja” menunjukkan kepada satu hal yang utama, yakni kekuasaan. Seorang raja adalah seorang yang berkuasa. Ia mampu memerintah kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja. Sebab ia berkuasa. Bahkan ia juga mampu memiliki segala-galanya. Setiap kemegahan dan kemewahan ada pada dirinya. Namun pertanyaannya sekarang adalah, apakah Yesus seorang “raja”? Ia tidak lahir di istana tetapi di kandang domba. Ia tidak hadir dan ditinggal di Yerusalem melainkan Betlehem. Dalam puncak hidupnya, Yesus bukan ditinggikan di tahta singgasana, berjubah mulia dan bermahkota permata. Namun justru ditinggikan di atas kayu salib, telanjang dan bermahkota diri. Lalu apa yang bisa menggambarkan “raja’ dalam pribadi Yesus Kristus? Ia lemah dan tidak berdaya. Ia bahkan kehilangan segala-galanya. Kehilangan kehormatannya, sebab ia telanjang di hadapan para lawannya. Kehilangan kepercayaannya, karena Ia tidak dapat turun dari kayu salib. Ia tidak dapat menolong diriNya. Bahkan Ia kehilangan dukungan, dengan ditinggalkan para pengikutNya. Sungguhkah Yesus seorang raja? Maka betapa mengherankan bila salah seorang penjahat di sampingnya berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Lukas 23:42). Ia mengakui Yesus sebagai raja! Bagaimana bisa ia berkata demikian?! Justru karena ia tidak sekedar menilai dari penampilan Yesus, namun ia sendiri telah merasakan kehadiran Yesus disampingnya. Di tengah penderitaannya, ia menemukan Yesus adalah seorang raja! Mengapa? Sebab ia sungguh menyadari siapa dirinya. Si penjahat tahu benar, Yesus bukanlah orang bersalah dan layak dihukum mati. “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." (Lukas 23:41). Yesus disalibkan bukan karena salah sasaran. Bukan pula karena Ia tidak mampu melawan. Ia memang mau disalibkan bersama orang berdosa. Merasakan kehadiran Yesus ditengah penderitaannya, si penjahat menghayati bahwa Yesus adalah Raja! Tidak sedikitpun ia melihat Yesus ‘kalah dan menyerah’ dalam penderitaanNya. Tidak sedetikpun Yesus ‘takluk dan tunduk’ oleh Salib yang ditanggungNya. Si penjahat sunguh- sunguh mengerti, Yesus memang mengambil tempat di antara penjahat, -bukan karena salah alamat- tetapi disanalah tempat Raja Sang Juru selamat! Raja ini datang bukan untuk orang yang benar, melainkan untuk orang yang berdosa. Dan bagi si penjahat, dirinyalah orang yang berdosa! Jadi Yesus benar-benar seorang Raja. Jika kita melihat menggunakan kacamata iman. Bukan sudut pandang dunia. Kacamata iman terdiri dari dua ‘lensa’ ; penyangkalan diri dan kerendahan hati. Si penjahat menyadari siapa dirinya. Ia memang layak dihukum. Ia memang pantas disalibkan. Dalam situasi tersebut ia melihat Sang Raja berdiri disampingnya. Maka hidupnya tidak berakhir dalam penyesalan. Sebuah pengharapan terucap dari mulutnya, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Pengharapannya tidak sia-sia, Sang Raja pun bersabda dengan penuh kuasa, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Si penjahat tidak hanya sekedar diingat –lalu dilupakan-, tetapi akan tinggal bersama Sang Raja di Firdaus. Sudahkah kita melihat Yesus sebagai Raja dalam hidup kita? Bila kita belum mengenaliNya sebagai Raja, sebenarnya bukan karena penampilanNya. Melainkan karena kita belum mau mengenali diri kita sendiri. Belum menyangkal diri dan rendah hati. Kata pepatah Jawa, kita masih ‘rumangsa bisa’ tetapi ‘ora bisa rumangsa’. Sayang sekali bukan?! Amin.

Link Sumber