KERJA DENGAN CINTA

By Admin

16 November 2019

Artikel Gerejawi



    Siapakah di dunia ini yang tidak mau mengerjakan hobinya, tapi sekaligus juga dibayar? Menjadikan hobi sebagai sebuah pekerjaan memang impian banyak orang. Tapi sayangnya tidak semua orang bisa mendapatkan anugerah dan kesempatan seperti itu. Pada kenyataannya, banyak yang kuliah di jurusan yang memang disukai, tapi kemudian terpaksa menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi minatnya, hanya demi bisa mendapatkan uang untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya. Masalah tidak hanya berhenti ketika ia sudah mendapatkan pekerjaan, tidak jarang dalam kehidupan bekerja pun ada banyak macam hal yang di luar harapannya. Gaji yang ternyata tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari, tuntutan pekerjaan yang dirasa terlalu berat dari yang seharusnya, hubungan dengan lingkungan kerja yang tidak baik, tekanan yang harus diterima dari atasan, dan banyak hal lainnya. Bukannya sebagai manusia ia tidak bersyukur atas nikmat pekerjaan yang Tuhan berikan kepadanya. Hanya saja, seringkali ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, demi kelangsungan hidup dan pemenuhan kewajiban yang memang harus dilakukannya. Tidak jarang, ini yang kemudian menyebabkan ada banyak orang memilih untuk keluar dari pekerjaannya, mencari pekerjaan baru yang dirasakan sesuai dengan dirinya dan bisa memuaskan kebutuhannya. Ketika pekerjaan barunya sudah tidak dapat memuaskan kebutuhannya lagi, ia akan keluar dan mencari pekerjaan yang menurutnya lebih baik. Hal tersebut dilakukannya berulang kali tanpa ia sadar bahwa dalam setiap pekerjaan memang ada banyak bagian dari ego manusia yang tidak akan terpuaskan dan pada akhirnya konsep Ridwan Kamil yang mengatakan bahwa ‘pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar’ semakin jauh dari dirinya. Padahal, tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan seperti yang sudah dijalaninya. Bahkan bisa jadi diluar sana ada banyak orang yang menginginkan pekerjaan dan posisi tersebut. Tentu jika setiap orang yang merasa tidak puas pada pekerjaannya menyadari hal ini, ia tidak akan sembarangan dalam memperlakukan pekerjaannya. Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Tesalonika mengatakan dengan jelas bahwa kepada setiap orang sudah dipercayakan tanggung jawab pekerjaan yang harus dilakukannya dan jangan sampai ia lalai dalam mengerjakannya (ay.6). sebab, selama Paulus berada di jemaat tersebut, ia berusaha untuk menjadikan dirinya teladan bagi jemaatnya dalam hal bekerja (ay.9). Melalui kata-katanya, Paulus ingin menunjukkan bahwa setiap pekerjaan yang dipercayakan kepada seseorang adalah pekerjaan yang sama beratnya, sama susahnya, dan sama seperti yang dilakukan oleh yang lainnya, hanya saja dalam bentuk yang bisa jadi berbeda. Ada yang diberikan kepercayaan menjahit pakaian dan ada yang dipercaya membuat model pakaian. Namun ketika ia melihat dan menilai pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain, ia merasa ‘iri’ bahwa pekerjaannya tidak adil dan sesuai dengan yang yang diharapkan. Itulah yang memunculkan ketidak puasan dalam dirinya, menyebabkannya menjadi malas dan tidak bertanggung jawab atau yang oleh Paulus dikatakan sebagai ‘lalai’. Tidak hanya sampai disitu saja, dengan keras Paulus juga mengingatkan supaya setiap orang yang memiliki pekerjaan tidak perlu menghiraukan orang lain yang tidak bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Dengan begitu, ia layak untuk makan dari hasil pekerjaan yang dilakukannya (ay.12). Sedangkan orang yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (ay.10). ini berarti, Paulus benar-benar menginginkan tanggung jawab itu tidak hanya menyelesaikan pekerjaannya dengan baik saja, melainkan juga melakukannya dengan sungguh-sungguh dan memberikan yang terbaik. Dengan begitu, ia layak untuk mendapatkan upahnya dan layak untuk hidup dari upah yang didapatkannya. Upah tersebut bukan saja dalam bentuk fisik seperti gaji, namun juga bisa dalam bentuk pujian atas apa yang dihasilkannya. Dan orang yang tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, ia tidak layak menerima apapun. Dari bacaan hari ini kita dapat belajar bahwa tidak semua orang mendapatkan karunia mengerjakan hobinya dan mendapatkan bayaran atasnya. Namun jika kita mau untuk memaknai secara lebih luas, pekerjaan yang sekarang dijalani mungkin memang bukan hobi kita, tapi pekerjaan tersebut adalah karunia yang Tuhan berikan kepada kita untuk kita hargai, kita lakukan dengan sungguh-sungguh, dan sesuatu yang harus kita cintai. Karena tidak semua orang beruntung dengan mendapatkan pekerjaan seperti kita saat ini. Dengan berusaha untuk melakukan yang terbaik atas pekerjaan kita, maka hasil yang kita dapatkan dari pekerjaan tersebut adalah sesuatu yang memang layak untuk menjadi berkat bagi kita dan layak untuk kita nikmati. Selain itu, secara tidak langsung kita juga menunjukkan bahwa ada karya Allah dalam kehidupan kita melalui bagaimana kita bekerja. Selamat hari Minggu, Selamat mulai bekerja dengan sungguh-sungguh esok hari. Bekerjalah dengan cinta. (D.A) Sumber gambar : http://damanikmacwell.blogspot.com

Link Sumber