AKTIF DALAM MEWUJUDKAN KEADILAN DAN KESEJAHTERAAN BERSAMA

By Admin

09 November 2019

Artikel Gerejawi



    Sebuah pertanyaan lucu mengatakan, “Mengapa gorila lubang hidungnya besar?” Jawabannya adalah, “karena jari-jarinya juga besar, supaya jarinya cukup untuk ngupil”. Inilah yang dinamakan tebak-tebakan. Pertanyaan yang diajukan bukan untuk mencari tahu, tetapi untuk menyampaikan jawaban yang lucu. Inilah yang menyenangkan dari tebak-tebakan. Tetapi ada pertanyaan yang tidak menyenangkan. Pertanyaan bukan untuk mencari tahu melainkan untuk menguji atau mencobai. Pertanyaan semacam inilah yang disampaikan orang Saduki kepada Tuhan Yesus. Orang Saduki selama ini sangsi akan kebangkitan orang mati. Maka mereka bertanya kepada Yesus tentang bagaimana kelak bila seorang istri yang menikah dengan tujuh saudara laki-laki demi membangkitkan keturunan. “siapakah diantara saudara-saudara laki-laki yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan?” Bukankah ketujuhnya telah beristerikan dia? (ayat 33). Pertanyaan ini bukan tebak-tebakan yang lucu dan menyenangkan. Pertanyaan ini adalah sebuah jebakan yang menjatuhkan. Yesus ditantang untuk menjelaskan situasi kebangkitan orang mati. Bila Yesus menjawab semua ketujuh saudara laki-laki adalah menjadi suami, tentu melanggar hukum Taurat karena adanya poliandri (satu istri dengan banyak suami). Dengan kata lain, pertanyaan orang Saduki ingin membuktikan bahwa kebangkitan orang mati adalah tidak masuk akal. Sebab melanggar hukum Musa sendiri. Di sinilah kita melihat kebijaksanaan Yesus di tengah situasi yang sulit. Sebab Yesus tahu benar, pertanyaanlah yang menentukan jawaban. Maka Yesus mengubah inti pertanyaan dengan berkata , “... dalam dunia kebangkitan, orang tidak kawin dan dikawinkan.” Artinya justru orang sadukilah yang telah membuat pertanyaan yang salah. Mereka sebenarnya mempermasalahkan ‘perkawinan’ bukan kebangkitan. Sebab di dunia kebangkitan, perkawinan tidak lagi menjadi persoalan. Lebih dalam lagi, Tuhan Yesus melanjutkan, “...Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Yang dimaksudkan Tuhan Yesus adalah Abraham, Ishak dan Yakub –leluhur bangsa Israel- dikatakan telah hidup bersama dengan Allah (bnd. Keluaran 3:6). Berarti mereka setelah mati bukan menjadi tiada. Mereka tetap ada dan hidup dalam pangkuan Tuhan. Bagaimana mereka bisa sampai kepada pangkuan Tuhan? Tentu harus ada kebangkitan! Ucapan Yesus ini menjadi pamungkas atas keraguan orang Saduki. Dengan menghayati kisah ini kita diajarkan : pertama, kebenaran tidak berdasarkan sesuatu yang masuk akal semata, melainkan juga dengan iman. Yang membuat orang sulit untuk percaya adalah karena sama dengan orang Saduki, mencoba untuk menemukan semua jawaban berdasarkan analisa logika mereka sendiri. Tidak semua hal dapat kita ketahui dengan tuntas berdasarkan kepuasan akal budi. Sebab manusia hidup tidak ditentukan dari apa yang dipikirkan, melainkan dari apa yang kita percaya. Kedua, kebangkitan orang mati justru membuat kita percaya akan kuasa kasih Allah. Jika kematian (maut) saja tidak dapat memisahkan kita dari Kristus, maka itu berarti tidak ada peristiwa apapun dalam hidup ini yang memisahkan kita dari kasih dan kuasaNya. Keyakinan ini justru mendorong kita untuk tetap tegar dan berpengharapan dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup. Anthony De Mello pernah mengisahkan tentang sebuah boneka garam berjalan beribu-ribu kilometer. Ia menjelajahi daratan, sampai akhirnya ia tiba di tepi laut. Ia amat terpesona oleh pemandangan baru, gelombang yang bergerak-gerak. Berbeda dengan segala sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya. ’Siapakah kau? Tanya boneka garam kepada laut. Sambil tersenyum laut menjawab: ’masuk dan lihatlah !!’ Maka boneka garam itu menceburkan diri ke laut. Semakin jauh masuk ke dalam laut, sampai hanya tinggal segumpal kecil saja. Sebelum gumpalan terakhir larut, boneka itu berteriak-teriak bahagia :’sekarang aku tahu, siapakah aku dan siapakah engkau!’ Boneka garam itu akhirnya kembali ke asalnya, bersatu dengan sang laut, larut dalam kebahagiaan tanpa batas. Perjumpaan dan kembalinya boneka garam ke dunia asalnya adalah gambaran dari kebangkitan. Kebangkitan orang mati bukan masalah minum dan makan. Melainkan saat kita kembali kepada muara dan tujuan hidup kita. Bahwa kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepadaNya. Kita bersatu dengan Tuhan serta melarut dalam kasihNya. Ketika larut mungkinkah kita dipisah dari Allah? Itulah kehidupan kekal dan abadi. Kita sudah bersatu dengan Tuhan dan tidak membutuhkan ‘apa-apa lagi’. Tidak perlu lagi direpotkan masalah perkawinan bukan? Amin

Link Sumber