BERTOBAT, MENERIMA SESAMA

By Admin

02 November 2019

Artikel Gerejawi



    Doraemon adalah robot kucing dari masa depan yang dikirim oleh Sewashi, cicit dari cicit Nobita untuk membantu Nobita memperbaiki kehidupannya. Sewashi merasa perlu untuk mengirim Doraemon karena kemalangan yang diderita Nobita ternyata mempengaruhi masa depan yang dijalani oleh keturunan-keturunannya. Walaupun pada masa hidup bersama Nobita Doraemon dikenal sebagai robot yang canggih, namun ternyata ia juga memiliki kekurangan. Pada saat diciptakan, Doraemon tidak seperti yang kita kenal saat ini, berwarna biru dan tidak memiliki telinga. Doraemon tercipta dengan warna kuning dan memiliki sepasang telinga yang runcing. Namun karena tikus memakan telinganya, itu membuatnya takut dan benci terhadap tikus. Tidak berhenti disitu saja. Pada saat Doraemon bertemu dengan kekasihnya, Noramyako, kekasihnya tersebut malah menertawakannya dan membuatnya semakin terpuruk. Seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, dalam kesedihannya tersebut, Doraemon yang berniat meminun cairan bahagia ternyata salah dan meminum cairan kesedihan. Cairan tersebut membuatnya menangis dalam waktu yang lama sehingga tubuh kuningnya luntur dan berubah menjadi biru serta bersuara serak seperti yang kita kenal saat ini. Sosok Doraemon, robot yang canggih pada masa hidup Nobita yang takut dengan tikus merupakan salah satu contoh bahwa segala macam yang tercipta tentu memiliki kekurangan. Ada ketidaksempurnaan yang melekat padanya sebagai sebuah ciptaan yang membuatnya tidak mungkin sama seperti penciptanya apalagi melebihi dari penciptanya. Begitu juga dengan manusia yang satu kekurangannya adalah mudah jatuh dalam dosa, sedangkan Allah adalah yang selalu mengangkat manusia dari dosanya. Walaupun begitu, bukan berarti manusia bisa seenaknya sendiri untuk terus menerus berkubang dalam keberdosaannya. Karya penyelamatan Allah atas diri manusia seharusnya juga mendapatkan respon aktif dari manusia tersebut untuk selalu memperbaiki dirinya sendiri melalui pertobatan dan usaha untuk melepaskan diri dari dosa, serta meningkatkan diri untuk layak disebut segambar dan serupa dengan Allah. Hal tersebut harus diwujud nyatakan dalam hubungan sosial, antara manusia dengan lingkungan disekitarnya. Dalam hal ini, kita bisa belajar dari perjumpaan Zakheus dengan Yesus. Zakeus adalah orang yang sangat dibenci, bahkan oleh orang sebangsanya karena pemungut cukai pada masa itu dianggap sebagai seorang yang bekerja untuk penjajah dan tidak jarang mengkorupsi uang pajak yang dipungutnya dan memeras rakyat. Zakeus mengalami pertobatannya pada saat ia bertemu dengan Yesus dimulai sejak momen spesial, Yesus berkata kepada Zakeus untuk turun dari pohon ara dan ingin tinggal di rumahnya (ay.5). Apa yang diungkapkan oleh Yesus menunjukkan bahwa Yesus bisa menerima keadaan Zakeus yang pada saat itu adalah orang berdosa dan ‘musuh bersama’ orang-orang Yahudi. Penerimaan tersebut juga yang membuat Zakeus mau membuka diri, bertobat, dan bahkan mau mengembalikan hak-hak orang yang sudah dirampasnya (ay.8). Sayangnya, apa yang dilakukan Yesus memunculkan tanggapan yang negatif dan aneh untuk orang pada masa itu (ay.7), karena Yesus yang seorang rabi dan orang terpandang di kelas sosial Yahudi mau datang dan tinggal bersama dengan orang berdosa. namun apa yang menjadi komentar banyak orang tersebut tidak didengarkan oleh Yesus, melainkan perjumpaannya dengan Zakheus tersebut membuat adanya pertobatan yang berarti adanya penyelamatan dari Allah terhadap orang berdosa seperti Zakheus. Pertobatan adalah pilihan yang selalu ada bagi orang berdosa. Seperti pertobatan yang dilakukan oleh Zakeus, semua pertobatan yang kita lakukan pun haruslah diikuti dengan sikap konkret. Zakeus mencontohkan dengan mengembalikan hak orang yang sudah dirampasnya. Apa yang dilakukan olehnya tersebut merupakan sebuah bentuk pertobatan yang membawanya pada kesalehan sosial untuk berbagi dengan sesama, lalu hal konkret apa yang bisa kita lakukan dalam kehidupan kita? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam kehidupan kita sebagai bentuk kesalehan sosial dan penerimaan kepada sesama. Memberi pengampunan terhadap orang lain yang berbuat buruk kepada kita dan tidak menghakimi orang lain yang melakukan perbuatan dosa, karena menyadari bahwa dirinya sendiri juga tidak lepas dari dosa dan sama- sama memiliki kesempatan untuk bertobat juga merupakan sebuah bentuk konkret dari kesalehan sosial. Tidak mudah memang untuk dilakukan, namun dengan dasar pemahaman bahwa dirinya sendiri dan orang lain adalah sama-sama orang berdosa dan sama-sama memiliki kesempatan untuk bertobat sudah bisa menunjukkan bahwa kita bisa berbuat baik kepada sesama kita. Lalu, tinggal bagaimana pertobatan yang sudah kita alami dapat diwujudnyatakan dalam perbuatan baik kita dikehidupan sehari-hari dan memberi dampak nyata pada sesama kita. Dengan begitu, pertobatan yang terjadi tidak hanya membawa kita dalam penyesalan akan dosa yang sudah dilakukan dan membuat hidup menjadi lebih baik lagi, tetapi bisa juga menunjukkan bahwa ada Yesus yang hidup dalam diri kita. (D.A)

Link Sumber