TEKUN DALAM DOA DAN KARYA

By Admin

19 October 2019

Artikel Gerejawi



    TEKUN DALAM DOA DAN KARYA Disetiap kaki tukang becak mengayuh rejeki itu doa, ada doa Disetiap lengan-lengan kuli-kuli bangunan itu doa, ada doa Doa itu dimana-mana. Ada di kolong jembatan. Ada di balik jembantan. Ada di setiap nafasnya pengangguran . Jangan mengajari orang miskin berdoa Jangan mengajari preman-preman jalanan berdoa. Tulisan diatas adalah beberapa bagian dari lagu Iksan Skuter yang judulnya ‘Doa Dimana-mana’. Jika dilihat dari lirik dan pemilihan kata, lagu ini cukup sederhana tapi memiliki makna yang sangat dalam. Dapat dilihat bahwa doa bagi penulis lagu tersebut adalah salah satu hal yang paling mudah dilakukan. Tidak perlu mengeluarkan biaya, cukup dengan niat dan kata-kata saja. Bahkan saking mudahnya, doa itu bisa ada dimana-mana dan dilakukan oleh siapa saja, bahkan orang miskin dan preman pun bisa berdoa. Namun, pada kenyataannya tidak semua orang berdoa dan tidak jarang malah mempertanyakan ‘mengapa orang yang beragama harus berdoa?’ Berdoa adalah cara manusia berkomunikasi dengan penciptanya. Tentu sifatnya pribadi, subjektif, dan dua arah. Ada yang berbicara dan mendengarkan secara bergantian. Dalam berdoa tidak ada yang salah ataupun benar, tidak ada yang kurang tepat ataupun sudah sempurna, karena berdoa itu adalah kebutuhan bagi tiap individu yang tidak bisa dinilai oleh individu lainnya. Maka sesuai dengan yang dituliskan dalam lirik lagu diatas, jangan mengajari orang lain berdoa, karena doa adalah komunikasi orang tersebut dengan Tuhan. Secara teori menurut Timothy Keller, setidaknya doa itu terbagi menjadi tiga macam. Yang pertama adalah doa yang mengungkapkan kebesaran dan keagungan Tuhan. Yang kedua adalah sebuah sarana untuk berefleksi tentang apa yang ada dalam diri dan kehidupan kita. Dan yang terakhir adalah doa yang berisikan syafaat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Jika kita sudah berdoa, maka termasuk yang manakah isi doa-doa yang kita panjatkan kepada Tuhan? Ataukah kita terlalu banyak berbicara, banyak meminta, hingga kita lupa mendengarkan Tuhan yang berbicara kepada Kita? Dalam setiap doa yang kita panjatkan, Tuhan menginginkan adanya relasi persahabatan, sama seperti antar manusia. Ada keterbukaan, kejujuran dan saling mendengarkan. Begitu juga dalam mewujudkan permohonan yang kita doakan, harus ada usaha dari manusia. Bukankah dalam kehidupan persahabatan kita dengan sesama juga begitu?. Seorang sahabat akan memberikan telinganya untuk mendengarkan curhatan kita dan berbagi pemikiran tentang sebuah masalah, begitu juga dengan Tuhan. Bahkan dalam satu perumpamaan yang kita baca hari ini, Tuhan ingin kita tekun dalam berdoa tetapi juga berusaha untuk aktif dalam pemenuhan kebutuhan hidup kita. Jika kita lihat pada kalimat pembukanya, tujuan dari perumpamaan tersebut adalah mengajak murid-muridnya untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu (ay.1). Namun pada bagian yang selanjutnya Ia menceritakan tentang perjuangan seorang janda untuk mendapatkan keadilan dari seorang hakim. Bukan dengan kekerasan janda tersebut meminta keadilan, melainkan dengan cara yang cukup lembut. Pada saat janda tersebut berkata ‘belalah hakku terhadap lawanku (ay.3)’, kata belalah hakku pada bahasa aslinya adalah ekdikeson yang berarti janda tersebut mengharapkan adanya keputusan dari hakim tersebut untuk melindunginya dari ketidakadilan. Ini tidak hanya dilakukannya sekali dua kali saja, melainkan berulangkali yang berarti juga menunjukkan kegigihan dari usaha janda tersebut, hingga akhirnya kegigihannya mengalahkan keengganan dari si hakim. Dari perikop injil yang kita baca, kita tahu bahwa doa bukan hanya tentang bagaimana kita memohonkan apa yang kita butuhkan dan bahkan yang kita inginkan saja, melainkan kita juga harus proaktif untuk berusaha mewujudkan apa yang kita doakan tersebut. Dalam setiap usaha yang kita lakukan untuk pemenuhan kebutuhan kita, disitu juga seharusnya terdapat doa. Bahkan dalam pekerjaan yang dipandang remeh orang lain, seperti tukang becak ataupun kuli bangunan, disitupun ada doa yang terucap. Walaupun kita tidak tahu, apakah doa tersebut bernada syukur untuk rejeki yang didapat atau malah keluhan karena tidak cukup untuk biaya hidup. Doa seharusnya menjadi nafas setiap individu yang beriman dan media untuk orang tersebut berkomunikasi dengan Tuhan. Lalu bagaimana dengan doa-doa yang selama ini kita panjatkan kepada Tuhan? Sudahkah kita berkomunikasi dengan Tuhan dan mendengarkan suara Tuhan dalam doa Kita? Amin. (D.A)

Link Sumber